Tapsel Tanggap Bencana dengan Kerja Keras dan Sinergi Berbagai Pihak yang Efektif

Tapanuli Selatan (Tapsel) telah memperoleh pengakuan sebagai salah satu daerah yang paling cepat dalam merespons dan menangani bencana. Pencapaian ini tidak lepas dari kerja keras yang dilakukan oleh pemerintah daerah, serta kolaborasi yang kuat dengan TNI-Polri, berbagai lembaga, dan organisasi non-pemerintah (NGO) serta masyarakat yang peduli. Apresiasi ini diberikan setelah bencana yang terjadi pada bulan November 2025.
Pentingnya Sinergi dalam Tanggap Bencana
Bupati Tapsel, Gus Irawan, menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya di depan ratusan jamaah pada pengajian akbar BKMT di Desa Huta Baru, Kecamatan Batang Toru, pada tanggal 16 April 2026. Sinergi antara berbagai pihak ini menjadi kunci utama dalam upaya penanganan bencana yang efektif.
“Daerah kita juga dikenal sebagai yang tercepat dalam mendapatkan bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana. Sejak Desember 2025, dana tunggu hunian (DTH) sudah disalurkan kepada para korban bencana, dengan besaran Rp600 ribu per bulan,” jelasnya.
Proses Penyaluran Bantuan yang Efektif
Pada bulan Januari 2026, keluarga korban bencana menerima santunan sebesar Rp15 juta per orang. Selain itu, pada bulan yang sama, dana stimulan untuk perbaikan rumah juga telah dicairkan, dengan Rp15 juta untuk rumah rusak ringan dan Rp30 juta untuk rumah yang rusak sedang.
Di bulan Februari 2026, para korban bencana mendapatkan bantuan dana isian rumah sebesar Rp3 juta, serta dana stimulan untuk memulihkan ekonomi mereka yang terdampak bencana sebesar Rp5 juta. Tak hanya itu, mereka juga menerima bantuan tambahan senilai Rp8 juta.
Bantuan Berkelanjutan untuk Masyarakat Terdampak
Di awal Maret 2026, masyarakat yang berhak akhirnya menerima bantuan jaminan hidup (Jadup) sebesar Rp450 ribu per jiwa per bulan, yang langsung dibayarkan oleh pemerintah pusat selama tiga bulan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa masyarakat yang terkena dampak bencana dapat menjalani kehidupan yang lebih layak.
“Dengan bantuan ini, masyarakat kita yang terdampak bencana pada Ramadan 1447 H lalu, sudah mulai menempati hunian sementara yang lebih layak. Tidak ada lagi masyarakat yang tinggal di tenda pengungsian saat merayakan Idul Fitri. Total ada 2.034 kepala keluarga yang telah menerima bantuan dan tinggal di hunian sementara yang lebih baik,” ungkap Gus Irawan.
Tantangan Paska Bencana
Meskipun banyak yang telah dilakukan, Bupati Gus Irawan mengakui bahwa tantangan pasca bencana masih sangat besar. Ribuan kepala keluarga kehilangan mata pencaharian dan masa depan mereka. “Kami berpikir tentang bagaimana mereka bisa kembali hidup normal dan memiliki mata pencaharian yang dapat mendukung keluarga mereka demi masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Rencana Pemulihan Ekonomi
Pemerintah Kabupaten Tapsel kini tengah merancang berbagai program untuk memastikan perekonomian masyarakat terdampak bencana tetap berlanjut. Khusus untuk Desa Huta Baru, Bupati menerima laporan mengenai kerusakan irigasi akibat bencana yang perlu segera ditangani.
Di saat yang bersamaan, Pemkab Tapsel gencar menjalankan program 1.000 kolam. Gus Irawan juga mendengar bahwa banyak kolam di Desa Huta Baru yang memiliki ikan. Ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah untuk memulihkan potensi ekonomi masyarakat.
Transfer Dana untuk Penanganan Pasca Bencana
Saat ini, terdapat pemulihan transfer dari pusat ke daerah (TKD) untuk menangani pasca bencana di daerah yang terdampak. Jika bencana tidak langsung terjadi di Desa Huta Baru, maka konteksnya adalah pemulihan ekonomi pasca bencana yang lebih luas.
“Kepala Dinas Pertanian Tapsel melaporkan bahwa kami sudah mengalokasikan dana untuk perbaikan irigasi yang dapat mengairi sekitar 12 hektare sawah, agar hasil panen bisa lebih optimal. Ini juga termasuk perbaikan kolam ikan,” kata Bupati.
Pembangunan Akses Jalan dan Ketersediaan Air Bersih
Di Desa Huta Baru, pemerintah juga merencanakan pembangunan akses jalan untuk usaha tani yang diharapkan dapat segera direalisasikan. Dengan adanya akses yang lebih baik, petani di Desa Huta Baru diharapkan dapat lebih lancar dalam menjalankan usaha mereka.
“Namun, kami menghadapi kendala dalam hal ketersediaan air bersih. Saat musim hujan, air berlimpah bahkan bisa menyebabkan banjir, tetapi ketika musim kemarau tiba, kami mengalami kekurangan air. Pemerintah telah mengumumkan bahwa beberapa bulan ke depan, kemungkinan akan terjadi kekeringan,” kata Gus Irawan.
Inovasi Pertanian untuk Menghadapi Perubahan Iklim
Merespons situasi tersebut, bersama Dinas Pertanian Tapsel, pihaknya sedang mengembangkan bibit padi baru bernama Gama Gora. Gama merupakan akronim dari Universitas Gajah Mada, yang menemukan varietas ini, sedangkan Gora berarti gogo (darat) dan rancah (air), yaitu persilangan antara padi darat dan padi air yang cocok untuk lahan sawah yang tidak terlalu banyak air.
Dalam menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global, Gus Irawan mengakui bahwa debit air di beberapa daerah cenderung berkurang, terutama pada musim kemarau. Di Tapsel, rata-rata petani hanya dapat melakukan panen sekali setahun. “Di Sipirok, kami melihat petani umumnya menanam padi jenis Silatihan, yang merupakan varietas turun-temurun, dan hanya panen sekali setahun,” jelasnya.
“Namun, varietas Gama Gora dapat dipanen dua kali setahun. Dengan waktu panen sekitar 80 hari atau tiga bulan, varietas ini sangat cepat. Kami berharap bisa mengganti sebagian varietas padi yang ada dengan Gama Gora agar hasil pertanian masyarakat lebih optimal,” tutupnya.